Jumat, 16 September 2011

Uroliterasis............


TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP DASAR urolithiasis

Pengertian
Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah.

Faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan batu
a.         Faktor Endogen
Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria.

b.         Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.

c.         Faktor lain
a)         Infeksi
Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali.

b)        Stasis dan Obstruksi Urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing.

c)         Jenis Kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 1

d)        Ras
Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.

e)         Keturunan
Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai kesempatan

f)         Air Minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat.

g)        Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk.

h)        Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringan.

i)          Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra).

Patogenesis
Sebagian besar Batu Saluran Kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

Teori Terbentuknya Batu
a.         Teori Intimatriks
Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b.         Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c.         Teori Presipitasi-Kristalisasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
d.        Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

PENGKAJIAN DATA DASAR
1.         Riwayat atau adanya faktor resiko
a.         Perubahan metabolik atau diet
b.         Imobilitas lama
c.         Masukan cairan tak adekuat
d.        Riwayat batu atau Infeksi Saluran Kencing sebelumnya
e.         Riwayat keluarga dengan pembentukan batu

2.         Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan :
a.         Nyeri. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat.
b.         Mual dan muntah serta kemungkinan diare
c.         Perubahan warna urine atau pola berkemih, Sebagai contoh, urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal

3.         Pemeriksaan Diagnostik
a.         Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 – 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 – 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b.         Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
c.         Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d.        Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang uriter.
e.         IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f.          Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek ebstruksi.
g.         USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.

Penatalaksanaan
a.         Menghilangkan Obstruksi
b.         Mengobati Infeksi
c.         Menghilangkan rasa nyeri
d.        Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.
Komplikasi
a.         Obstruksi Ginjal
b.         Perdarahan
c.         Infeksi
d.        Hidronefrosis

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1.         Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal
2.         Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra.
3.         Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.
4.         Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.


II.       PERENCANAAN TINDAKAN PERAWATAN


TGL
Diagnosa Keperawatan/Data Penunjang
TUJUAN/KRITERIA
RENCANA TINDAKAN
rasional
NAMA PERAWAT / MAHASISWA
1 April 2002
Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal
Data Penunjang :
-            Kolik yang berlebihan
-            Lemes, mual, muntah, keringat dingin
-            Pasien gelisah
Tujuan :
Rasa sakit dapat diatasi/hilang
Kriteria :
-            Kolik berkurang/hilang
-            Pasien tidak mengeluh nyeri
-            Dapat beristirahat dengan tenang
-            Kaji intensitas, lokasi dan tempat/area serta penjalaran dari nyeri.


-            Observasi adanya abdominal pain

-            Kaji adanya keringat dingin, tidak dapat istirahat dan ekspresi wajah.
-            Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut.
-            Anjurkan pasien banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.
-            Berikan posisi dan lingkungan yang tenang dan nyaman.
-            Ajarkan teknik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine
-            Kolaborasi dengan tim dokter :
·           Pemberian Cairan Intra Vena


·           Pemberian obat-obatan Analgetic, Narkotic atau Anti Spasmodic.


-            Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat-obat Narkotic, Analgetic dan Anti Spasmodic.
-            Peningkatan nyeri adalah indikatif dari obstruksi, sedangkan nyeri yang hilang tiba-tiba menunjukkan batu bergerak. Nyeri dapat menyebabkan shock.
-            Kemungkinan adanya penyakit/komplikasi lain.
-            Kemungkinan salah satu tanda shock

-            Memberikan informasi tentang penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut.
-            Cairan membantu membesihkan ginjal dandapat mengeluarkan batu kecil.

-            Untuk mengurangi sumber stressor

-            Untuk mengurangi/menghilang kan nyeri tanpa obat-obatan

·           Untuk memudahkan pemberian obat serta pemenuhan cairan bila mual, muntah dan keringat dingin terjadi.
·           Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri/kolik yang berlebihan

-            Untuk mengetahui efek samping yang tidak diharapkan dari pemberian obat-obatan tersebut.





























S  u  b  h  a  n

2 April 2002.
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra.
Data Penunjang :
Urine out put < 30 cc per jam
Daerah perifer dingin pucat
TD < 100/70 mmHg,
HR > 120 X/mt,
RR > 28 X/mt.
Pengisian kapiler > 3 detik
Tujuan :
Gangguan perfusi dapat diatasi
Kriteria :
-            Produksi urine 30 – 50 cc perjam.
-            Perifer hangat
-            Tanda-tanda vital dalam batas normal :
·           Sistolik 100 – 140 mmHg.
·           Diastolik 70 – 90 mmHg.
·           Nadi 60 – 100 X/mt
·           Pernafasan 16 – 24 X/mt
-            Pengisian kapiler < 3 detik
-            Observasi tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah dan pernafasan).
-            Observasi Produksi urine setiap jam.

-            Observasi perubahan tingkat kesadaran.
-            Kolaborasi dengan tim kesehatan:
·           Pemeriksaan laboratorium : kadar ureum/kreatinin, Hb, urine HCT.
·           Pemberian diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat
·           Pemberian ammonium chloride dan mandelamine.
-            Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
-            Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
-            Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
·           Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
·           Untuk mencegah/ mengurangi masalah
·           Untuk mencegah/ mengurangi masalah


















S  u  b  h  a  n

3 April 2002.
Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.
Data Penunjang :
-            Ekspresi wajah tegang, gelisah, tidak bisa tidur.
-            Tidak kooperatif dalam pengobatan.
-            HR = 125 X/mt
Tujuan :
Rasa cemas dapat diatasi/berkurang.
Kriteria :
-            Pasien dapat nenyatakan kecemasan yang dirasakan.
-            Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
-            Nadi dalam batas normal.
-            Ekspresi wajah ceria/rileks.
-            Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.
-            Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.
-            Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.
-            Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.
-            Temani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul.
-            Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya .

-            Hindari konfrontasi dengan pasien.
-            Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien.
-            Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi terapeutik.
-            Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.
-            Berikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.
-            Hargai setiap pendapat dan keputusan pasien.
-            Untuk mengurangi rasa cemas


-            privacy dan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa cemas.
-            Untuk dapat lebih memberikan ketenangan.
-            Untuk mendeteksi dini terhadap masalah
-            Untuk mengurangi rasa cemas

-            Kemampuan pemecahan masalah pasien meningkat bila lingkungan nyaman dan mendukung diberikan.
-            Untuk mengurangi ketegangan pasien
-            Informasi yang diberikan dapat membantu mengurangi kecemasan/ansietas
-            Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan

-            Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien
-            Untuk mengurangi ketergantungan pasien


-            Untuk meningkatkan harga diri pasien.




























S  u  b  h  a  n

4 April 2002.
Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.
Data Penunjang :
-            Pasien menyatakan belum memahami tentang penyakitnya.
-            Pasien bertanya-tanya tentang proses penyakit dan pengobatan.
-            Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan
Tujuan :
Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkat
Kriteria
-            Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik.
-            Pasien tidak bertanya lagi tentang keadaan penyakit dan program pengobatannya.
-            Pasien kooperatif dalam program pengobatan.
-            Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit dan pengobatannya.
-            Berikan penjelasan tentang penyakit, tujuan pengobatan dan program pengobatan.
-            Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.
-            Diskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.

-            Diskusikan tentang pentingnya diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat.
-            Batasi aktifitas fisik yang berat.
-            Pengetahuan membantu mengembangkan kepatuhan pasien dan keluarga terhadap rencana terapeutik
-            Untuk menambah pengetahuan pasien


-            Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalah



-            Untuk menambah pengetahuan pasien bahwa cairan dapat membantu pembersihan ginjal dan dapat mengeluargan batu kecil
-            Untuk menambah pengetahuan pasien dan mencegah kekambuhan

-            Untuk mencegah kekambuhan


















S  u  b  h  a  n



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Ja

HYPOSPADIA, salah satu kelainan kongenital....


BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

 

HIPOSPADIA

A.    DEFINISI

             Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa muara uretra yang terletak di sebelah  ventral penis dan sebelah prokimal ujung penis. Hipospadia merupakan salah satu dari kelainan congenital palings erring pada genitalia laki laki, terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki laki, dapat dikaitkan dengan kelainan congenital lain seperti anomaly ginjal, undesensus testikulorum dan genetic seperti sindroma klinefelter.


B.     ETIOLOGI

             Penyebeb kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi yang premature dari sel interstitial testis.


C.    MANIFESTASI KLINIS

             Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai  dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu cirri khas untuk mencirigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.


D.    KLASIFIKASI

             Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glandular, distal penile, penile, penoskrotal, scrotal dan perineal.

             Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dans emakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis, skrotum atau perineum.

             Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian : (1) Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis distal. (2) Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal (3) Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal.


E.     PERKEMBANGAN EMBRIONOK DARI HIPOSPADIA

             Perkembangan dari penis dan skrotum dipengaruhi oleh testis. Tanpa adanya testis, maka struktur wanita seperti klitoris, labia minora dan labia mayora dominan, tetapi dengan adanya testis, klitoris membesar menjai penis, sulkus antara labia minora terbentuk menjadi uretra dan labia mayora berkembang menjadi skrotum, kedalam mana  testis kemudian turun. Hipospadia terjadi jika sel testis yang berkembang secara premature berhenti memproduksi androgen, karena itu menimbulkan interupsi konversi penuh dari genitalia eksterna menjadi bentuk laki laki.


F.     MASALAH PADA HIPOSPADIA

1.      Masalah psikologis pada anak karena merasa malu akibat bentuk penis yang berbeda dengan teman bermainnya.
2.      Masalah reproduksi karena bentuk penis yang bengkok menyebabkan penis susah masuk ke dalam vagina saat kopulasi, cairan semen yang disemprotkan melalui saluran uretra pada tempat abnormal.
3.      kesulitan penentuan jenis kelamin terutama jika meatus uretra terletak di perineum dan skrotum terbelah dengan disertai kriptorkismus.
4.      Biaya yang cukup besar karena prosedur operasi yang bertahap
5.      Kemungkinan adanya kelainan congenital yang lain seperti kelainan ginjal sehingga perlu dianjurkan untuk pemerikaan foto polos abdomen dan pielografi intravena.

G.    PENATALAKSANAAN

             Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1.      Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari  muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum.
2.      Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.

H.    PEMERIKSAAN PENUNJANG

§  Darah lengkap, urine lengkap
§  Uretroskopi

I.       PRINSIP TERAPI DAN MANAGEMEN PERAWATAN

1.      Koreksi bedah.
2.      Persiapan prabedah
3.      Penatalaksanaan pasca bedah
v  Anak harus dalam tirah baring
v  Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering
v  Perawatan kateter
v  Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri
v  Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin
v  Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari

J.      KOMPLIKASI

             Komplikasi yang biasa terjadi antara lain struktur uretra (terutama pada sambungan meatus uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat) atau fistula.


K.    DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL

Pra Bedah

1.      Cemas b/d krisis situasional
2.      Gangguan Pola Eliminasi Urine
3.      Resiko kerusakan kedekatan orangtua/ teman

Pasca Bedah

1.      Resiko Infeksi b/d tindakan invasive
2.      Nyeri akut b/d cidera fisik akibat pembedahan
3.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis,kebutuhan pengobatan b/d keterbatasan kognitif

 

Rencana Keperawatan

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi

1


Pra Bedah
Cemas b/d krisis situasional
ditandai dengan
-    Gelisah
-    Insomnia
-    Resah
-    Ketakutan
-    Sedih
-    Fokus pada diri
-    Kekhawatiran
-    Cemas




Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak cemas dengan kriteria:
v Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
v Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas
v Vital sign dalam batas normal
v Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan


1.        Gunakan pendekatan yang menenangkan
2.        Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien
3.        Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4.        Pahami prespektif pasien terhdap situasi stres
5.        Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
6.        Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
7.        Dorong keluarga untuk menemani anak
8.        Dengarkan dengan penuh perhatian
9.        Identifikasi tingkat kecemasan
10.    Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi












11.    Dorong pasien untuk mengungkap-kan perasaan, ke-takutan, persepsi
12.    Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
13.    Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi kecemasan
2
Gangguan pola eliminasi urin b/d terpasang dower kateter, tindakan pembedahan
ditandai dengan :
-    Pasien terpasang dower kateter


Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak ada gangguan pola eliminasi urin dengan kriteria :
v Tidak terpasang kateter
v Pengeluaran urin lancar tanpa bantuan kateter

1.      Kaji haluaran uroin dan kateter
2.      Dorong pemasukan cairan sesuai  toleransi
3.      Ajarkan pasien un-tuk latihan perineal dengan mengen-cangkan bokong, menghentikan memulai aliran urin
3
Resiko terhadap kerusakan kedekatan orangtua/ teman
b.d perpisahan

Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan tidak terjadi kerusakan hubungan kedekatan dengan orang tua/ teman, dengan kriteria:
v Klien mengatakan tidak sedih dirawat di rumah sakit, berpisah dengan teman-temannya
1.      Kaji pemahaman klien tentang alas an mondok di rumah sakit.
2.      Berikan tekhnik distraksi
3.      Beri dukungan agar klien mengerti bahwa perpisahan dengan teman-temannya hanya sementara.

1
Pasca Bedah
Resiko Infeksi b/d tindakan invasif

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak terjadi infeksi dengan kriteria :
v Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
1.   Observasi tanda-tanda infeksi
2.   Observasi tanda vital (demam, menggigil)
3.   Rawat luka dengan tehnik aseptik dan antiseptik
4.   Pertahankan tehnik cuci tangan yang benar

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi


v Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
v Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
v Jumlah leukosit dalam batas normal
v Menunjukkan perilaku hidup sehat
5.   Tekankan pada pasien pentingnya kebersihan diri dan kebersihan lingkungan
6.   Kolaborasi pemeriksaan pus kultur dan sensitifitas
7.   Kelola pemberian antibiotik
2
Nyeri akut b/d cidera fisik akibat pembedahan


Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang sampai dengan hilang dengan kriteria :
v  Mampu mengontrol nyeri (tahu penye-bab nyeri, mampu menggunakan tehnik untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang
v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v  Tanda vital dalam rentang normal
1.    Kaji skala nyeri
2.    Ajarkan teknik relak-sasi dan distraksi
3.    Beri lingkungan yang  tenang dan nyaman.
4.    Diskusikan tentang nyeri dengan pasien dalam asuhan keperawatan.
5.    Kelola pemberian  obat analgetik.




3
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis,kebutuhan pengobatan b/d keterbatasan kognitif ditandai dengan :
Setelah dilakukan tinda-kan keperawatan diha-rapkan pasien mengeta-hui tentang prognosis, kebutuhan pengobatan ditandai dengan :
1.        Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi

-    Memverbalisasi-kan adanya masalah
-    Ketidakakuratan mengikuti instruksi
-    Perilaku tidak sesuai.


v  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
v  Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
v  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya
2.        Jelaskan patofisio-logi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, deng-an cara yang tepat.
3.        Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4.        Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5.        identifikasi ke-mungkinan penye-bab, dengan cara yang tepat
6.        Sediakan informasi pada pasien ten-tang kondisi, deng-an cara yang tepat
7.        Hindari harapan yang kosong
8.        Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
9.        Diskusikan peru-bahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah kompli-kasi di masa yang akan datang dan atau proses pe-ngontrolan penyakit
10.    Diskusikan pilihan terapi atau penanganan


No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi



11.    Dukung pasien un-tuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion de-ngan cara yang tepat atau diindikasikan
12.    Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
13.    Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.